A. Pengertian shilaturahim
Shilaturrahim merupakan Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu Shilah
dan Rahim,
1. Shilah
Shilah dimaknai dari 2 aspek:
a. Alat atau Maknanya :
Sesuatu yang menghubungkan sesuatu.
b. Perbuatan:
Melakukan sesuatu yang dengannya manusia dianggap tetap
berhubungan.
c. Secara istilah, menurut Ibnu Hajar al-Haitsami,
Menghubungkan/menyampaikan suatu jenis kebaikan.
2. Rahim
a. Secara bahasa
yaitu tempat pertumbuhan anak (rahim) atau tempat pembentukan janin.
b.
Secara Majazi (arti kiasan), menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqallani
(Fathul Bari, X : 414), ar-Rahim secara umum adalah dimaksudkan bagi
para kerabat atau yang terdapat garis nasab, baik berhak mewarisi atau tidak,
sebagai mahram atau tidak.
3. Shilaturrahim
Menurut istilah Syar’i, menurut Ibnu
Abu Jamrah (w. 695 H), (Fathul Bari, X : 418)
yaitu :
Menyampaikan kebaikan semaksimal
mungkin dan menolak kejelekan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan.
B. Anjuran bershilaturahim
يَاأيّهَا النَّاسُ
اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَ بَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَ نِسَآءً وَاتَّقُوْا اللهَ
الًّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَ الأرْحَامَ إنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْـبًا (1)
"Hai sekalian
manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang
satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah
memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah
kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama
lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu
menjaga dan mengawasi kamu "(QS an-Nisa`, 4 : 1)
Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh
Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا
رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ
النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ
وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ
النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ
وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ :
إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa
memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau
“Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun
mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan
sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung
silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk
surga”.
Orang yang dituju untuk bersilaturahim. Dari Umar Ibnu Khattab ra berkata, bersabda Nabi saw : “ Diantara
hamba Allah ada sekelompok manusia yang bukan para nabi juga bukan para syuhada, malah para Nabi dan para syuhada tertarik dengan kedudukan mereka
dari Allah pada hari kiamat “ Mereka bertanya : “ Beritahukanlah kepada
kami siapa mereka itu ? “ Beliau menjawab :
… هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا
بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ
يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ
لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ
وَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ
وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ – ر ابو داود
Mereka adalah
orang-orang yang saling mencintai dasarnya ruh Allah (agama), bukan karena ada
hubungan nasab di antara mereka, bukan pula terkait harta (bisnis). Demi
Allah Sesungguhnya wajah mereka bercahaya, dan sesungguhnya mereka
ada dalam cahaya. Mereka tidak merasa takut di saat manusia dihantui rasa
takut, dan tidak menyesal ketika manusia diselimuti penyesalan. Lalu Beliau
membaca ayat “ Ketahuilah, bahwa wali-wali Allah tidak merasa takut dan
juga mereka tidak menyesal. “ ( HR.Abu
Dawud )
C. Contoh shilaturahim
1. Bersalaman
عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ
فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا – ر احمد و
ابوداود و الترمذي
Dari
Al-Barra berkata, bersabda Rasulullah saw “ Tidaklah bertemu dua orang muslim
lalu bersalaman, maka pastilah diampuni dosa keduanya, sebelum keduanya
berpisah.”( HR Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi).
Pintu
surga dibuka setiap Senin dan Kamis
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ
فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ
بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى
يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى
يَصْطَلِحَا – ر مسلم
Dari Abi Hurairah ra, bahwa
Rasulullah saw bersabda : “ Pintu-pintu surga dibukakan setiap Senin
dan Kamis, Allah mengampuni dosa-dosa hamba selama tidak musyrik. Kecuali
orang yang antara dia dengan saudaranya ada kebencian, maka diintruksikan:
Tangguhkanlah kedua orang ini (ampunannya) sampai keduanya damai, tangguhkanlah
kedua orang ini (ampunannya) sampai keduanya damai. “ (HR. Muslim).
2. Pertemuan
Firman Allah QS. Annisa: 114
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan
pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang
menyuruh (manusia) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan
perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena
mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang
besar. (QS. An-Nisa : 114)
Hak Muslim atas Muslim ada enam:
1. Jika bertemu
dengannya maka ucapkan salam.
2. Jika dia
mengundangmu, maka datanglah.
3. Jika dia
meminta nasihat darimu, maka berilah nasehat.
4. Jika dia bersin dan mengucapkan “alhamdulillah”, maka
balaslah dengan do’a “yarhamukallah”.
5. Jika dia sakit, maka kunjungilah, dan
6. dan jika dia meninggal, maka antarkanlah jenazahnya ke kuburan
(HR. Muslim).
D. Hikmah shilaturahim
1. Merupakan konsekuensi iman kepada Allah Swt.
Sebagaimana
dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw
bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ
فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ, وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ
فَلْيَصِل رَحِمَهُ
“Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan
tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maha
hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.”
2. Dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizqinya
Sebagaimana hadist Rasullullah SAW:
عن أَنَسُ
بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ
أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ
رَحِمَهُ – ر البخاري
Dari Anas bin Malik ra, bahwa
Rasulullah saw bersabda: “ barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan
umurnya (kebaikannya) maka bersilaturahmilah. (HR. Al-Bukhari)
3. Terhubung dengan Allah SWT
Menyambung tali silaturahmi sama dengan menyambung hubungan
dengan Allah SWT sebagaimana disebutkan hadist yang diriwayatkan dari Abu
Hurairah ra. ia berkata sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
إَنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ
قَامَتِ الرَّحِمُ فَقَالَتْ:هَذَا مَقَامُ الْعَائِذُ بِكَ مِنَ الْقَطِيْعَةِ
قَالَ: َنعَمْ, أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكَ وَأَقْطَعَ مَنْ
َقطَعَكَ ؟ قَالَتْ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ لَكَ
“Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan makhluk, hingga apabila
Dia selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah
kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan. Dia berfirman:
“Benar, apakah engkau ridha jika Aku menyambung orang yang menyambung engkau
dan memutuskan orang yang memutuskan engkau?” Ia menjawab: iya. Dia berfirman:
“Itulah untukmu”.
4. Penyebab Masuk surga dan dijauhkan dari neraka
Dari
Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya
tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab,
تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ
الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ
“Sembahlah
Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat,
dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari
no. 5983, Bab Fadhilah silaturrahim).
5. Merupakan bentuk Ketaatan kepada Allah SWT
Menyambung tali silaturahim adalah salah satu hal yang
diperintahkan oleh Allah Swt, maka dengan menjalankan perintahnya maka kita
taat kepada Allah Swt. Menjalin silaturahim juga merupakan salah satu cara meningkatkan akhlak terpuji.
Sifat-sifat
terpuji, Allah swt berfirman:
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَآأَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ
وَيَخشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah
perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya (merasa
diawasi), dan takut kepada hisab yang buruk (di akhirat nanti)” (QS. Ar-Ra’d
:21)
Tafsir
Ibnu Katsir
6. Pahalanya seperti memerdekakan budak
Sebuah hadist meriwatkan bahwa dari Ummul mukminin Maimunah
binti al-Harits radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia memerdekakan budak
yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi saw sebelumnya, maka
tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: Apakah engkau merasa
wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan)
milikku? Beliau bertanya: “Apakah sudah engkau lakukan?” Dia menjawab: Ya.
Beliau bersabda:
”
أَمّا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيتِهَا
أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ ِلأَجْرِكِ “
“Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu
niscaya lebih besar pahalanya untukmu.”
7. Menambah keutamaan dalam bersedekah terhadap
keluarga sendiri
Hadist
dari Salman bin ‘Amir ra, dari Nabi saw beliau bersabda:
”
الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي
الرَّحِمِ اثْنَتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ “
“Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap
keluarga sendiri mendapat dua pahala: sedekah dan silaturahmi.” (HR Tirmidzi)
Hadits Zainab ats-Tsaqafiyah radhiyallahu ‘anha,
istri Abdullah bin Mas’ud ra, ketika ia pergi dan bertanya kepada Nabi saw: Apakah
boleh dia bersedekah kepada suaminya dan anak-anak yatim yang ada dalam
asuhannya? Maka Nabi saw bersabda:
”
لَهَا أَجْرَانِ: أَجْرُ الْقَرَابَةِ
وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ “
“Untuknya dua pahala, pahala kekeluargaan dan pahala
sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)
8. Panjang umur
Memiliki ikatan sosial yang baik bisa meningkatkan
kesehatan jiwa, salah satunya menyehatkan otak dan juga membuat panjang umur.
Bergaul dan berteman berkaitan erat dengan sistem imun yang lebih kuat,
terutama pada orang lanjut usia. Ini berarti, mereka tidak gampang sakit.
Berinteraksi
dengan orang lain secara positif juga meningkatkan perasaan bahagia dan
mengurangi rasa depresi. Oleh karenanya, salah satu cara terbaik meningkatkan
mood adalah berkomunikasi dengan orang-orang terdekat.
Ada banyak bukti-bukti yang menunjukkan,
bersosialisasi bermanfaat positif bagi kesehatan otak. Orang yang banyak
bergaul cenderung memiliki kemampuan kognitif dan daya ingat lebih baik. Dalam
jangka panjang, risiko menderita demensia juga lebih rendah.
E. Memutus tali silaturahim
1. Dilaknat Allah
Allah berfirman dalam surah Muhammad: 22-23 yang artinya:
"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan
dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (22). Mereka
itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan
dibutakan-Nya penglihatan mereka”(23). (QS. Muhammad :22-23)
2. Diputuskan hubungannya dengan Allah
Orang yang memutuskan silaturahmi tidak hanya berdosa besar
melainkan juga akan diberikan ganjaran sebagaimana yang hadist berikut :
”
اَلرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ
تَقُوْلُ: مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللهُ “
“Rahim bergantung di Arys seraya berkata: Barangsiapa yang
menyambung hubunganku niscaya Allah Swt. menyambungnya, dan barangsiapa yang
memutuskan aku niscaya Allah Swt. memutuskan hubungan dengannya” (HR Bukhari
dan Muslim).
3. Disegerakan Siksaannya
مَا مِنْ ذَنْبٍ
أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا
يُدَّخَرُ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ
“Tidak
ada dosa yang Allah swt lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta
yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali
silaturahmi” (HR Tirmidzi).
4. Tidak diterima amalnya
Dan diriwayatkan bahwa orang yang memutuskan tali
silaturahmi, amalannya tidak akan diterima, dari Abu Hurairah ra ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
”
إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيْسٍ
لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ “
“Sesungguhnya amal ibadah manusia diperlihatkan setiap hari
Kamis malam Jum’at, maka tidak diterima amal ibadah orang yang memutuskan
hubungan silaturahmi” (HR Ahmad).
5. Tidak menerima rahmat Allah
Abdullah
bin Abi Aufa ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
”
لاَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ عَلَى قَوْمٍ
فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ “
“Rahmat tidak akan turun kepada kaum
yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi” (HR Muslim).
6. Tidak akan masuk surga
Dan orang yang memutuskan tali
silaturahmi terancam tidak bisa masuk surga, dari Abu Muhammad Jubair bin
Muth’im ra, dari Nabi saw beliau bersabda:
”
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ “
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)”
(HR Bukhari dan Muslim)
F. Menghadapi orang yang memutuskan silaturrahim
Mendahului untuk meminta menyambungkan silaturahmi, karena
itu bagian dari amalan yang utama. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra aku berkata: Ya Rasulullah,
ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang utama, maka beliau bersabda:
”
صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَأَعْرِضْ
عَمَّنْ ظَلَمَكَ “
“Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan
dengan)mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah
dari orang yang berbuat zalim kepadamu” (HR Ahmad).Wassalamu'alaikum Wr. Wb.






No comments:
Post a Comment