Friday, April 27, 2018

Amalan Bulan Sya'ban dan Nishfu Sya'ban

Assalamu'alaikum Wr. Wb.


الحمدلله رب العالمين وبه نستعين علي امورالدنيا والدين
أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ (امابعد)

         Kita telah memasuki bulan Sya'ban. Bulan yang memiliki banyak keutamaan untuk beribadah kepada Allah Swt. Di antara malam-malam bulan Sy'aban, ada satu malam yang menjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat, yaitu tentang Malam Nishfu Sya'ban. Ada yang berpendapat bahwa mengkhususkan beribadah pada malam itu (seperti yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya, shalat dan dzikir tertentu) merupakan Bid'ah karena tidak pernah dilakukan oleh Rasul. Tetapi pihak lain, ada pula yang mensunnahkan amalan tersebut. 
         Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut di atas, maka yang menjadi pertimbangan bukanlah kesepakatan golongan atau kelompok tertentu, tetapi hujjah yang dilandasi oleh dalil-dalil yang kuat. Dengan demikian, jika kedua belah pihak memiliki pendapat yang berbeda tetapi sama-sama memiliki dalil yang kuat, maka yang harus dikedepankan adalah sikap toleransi dan saling menghargai.  
       Untuk meyakinkan dan menghilangkan perasaan was-was bagi para pecinta dan pengamal amalan malam nishfu Sya'ban, maka saya sajikan artikel dari Buya Yahya yang berjudul Hujjah Ilmiah Amalan di Bulan Syaban. Untuk membuka artikel tersebut silahkan buka link berikut :
http://buyayahya.org/wp-content/uploads/2018/04/Hujjah-Ilmiah-Amalan-di-Bulan-Syaban.pdf

       
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Thursday, April 26, 2018

Shilaturrahim

A.  Pengertian shilaturahim
            
Shilaturrahim merupakan Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu Shilah dan Rahim,
1.    Shilah
       Shilah dimaknai dari 2 aspek:
       a. Alat atau Maknanya : 

Sesuatu yang menghubungkan sesuatu.
       bPerbuatan:
            Melakukan sesuatu yang dengannya manusia dianggap tetap berhubungan.
c. Secara istilah, menurut Ibnu Hajar al-Haitsami,

Menghubungkan/menyampaikan suatu jenis kebaikan.

2.    Rahim
a. Secara bahasa yaitu tempat pertumbuhan anak (rahim) atau tempat pembentukan janin.
b. Secara Majazi (arti kiasan), menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqallani (Fathul Bari, X : 414), ar-Rahim secara umum adalah dimaksudkan bagi para kerabat atau yang terdapat garis nasab, baik berhak mewarisi atau tidak, sebagai mahram atau tidak.

3.    Shilaturrahim
         Menurut istilah Syar’i, menurut Ibnu Abu Jamrah (w. 695 H), (Fathul Bari, X : 418)  yaitu :   
             Menyampaikan kebaikan semaksimal mungkin dan menolak kejelekan semaksimal mungkin              sesuai dengan kemampuan.

B.  Anjuran bershilaturahim

يَاأيّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَ بَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَ نِسَآءً وَاتَّقُوْا اللهَ الًّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَ الأرْحَامَ إنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْـبًا (1) 
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu "(QS an-Nisa`, 4 : 1)
Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

Orang yang dituju untuk bersilaturahim. Dari Umar Ibnu Khattab ra berkata, bersabda Nabi          saw : “ Diantara hamba Allah ada sekelompok manusia yang bukan para nabi juga bukan para            syuhada, malah para Nabi dan para syuhada tertarik dengan kedudukan mereka dari  Allah          pada hari kiamat “ Mereka bertanya : “ Beritahukanlah kepada kami siapa mereka itu ? “  Beliau        menjawab :
هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ – ر ابو داود
Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dasarnya ruh Allah (agama), bukan karena ada hubungan nasab di antara mereka, bukan pula terkait harta (bisnis). Demi Allah  Sesungguhnya  wajah mereka bercahaya, dan sesungguhnya mereka ada dalam cahaya. Mereka tidak merasa takut di saat manusia dihantui rasa takut, dan tidak menyesal ketika manusia diselimuti penyesalan. Lalu Beliau membaca ayat “  Ketahuilah, bahwa wali-wali Allah tidak merasa takut dan juga mereka tidak menyesal. “  ( HR.Abu Dawud )

C.  Contoh shilaturahim

1. Bersalaman

عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا – ر احمد و ابوداود و الترمذي
Dari Al-Barra  berkata, bersabda Rasulullah saw “ Tidaklah bertemu dua orang muslim lalu bersalaman, maka pastilah diampuni dosa keduanya, sebelum keduanya berpisah.”( HR Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi).

            Pintu surga dibuka  setiap Senin dan Kamis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا – ر مسلم
Dari Abi Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Pintu-pintu surga dibukakan setiap Senin dan Kamis, Allah mengampuni dosa-dosa hamba selama tidak musyrik. Kecuali orang yang antara dia dengan saudaranya ada kebencian, maka diintruksikan: Tangguhkanlah kedua orang ini (ampunannya) sampai keduanya damai, tangguhkanlah kedua orang ini (ampunannya) sampai keduanya damai. “ (HR. Muslim).


2.  Pertemuan
Firman Allah QS. Annisa: 114

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.  (QS. An-Nisa : 114)

         Hak Muslim atas Muslim ada enam:

            1. Jika bertemu dengannya maka ucapkan salam.
            2. Jika dia mengundangmu, maka datanglah.
            3. Jika dia meminta nasihat darimu, maka berilah nasehat.
4. Jika dia bersin dan mengucapkan “alhamdulillah”, maka balaslah dengan do’a “yarhamukallah”.
5. Jika dia sakit, maka kunjungilah, dan
6. dan jika dia meninggal, maka antarkanlah jenazahnya ke kuburan (HR. Muslim).

D.  Hikmah shilaturahim

1.  Merupakan konsekuensi iman kepada Allah Swt.
Sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ, وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِل رَحِمَهُ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.”

2.  Dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizqinya
     Sebagaimana hadist Rasullullah SAW:
عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ – ر البخاري
Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “ barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya (kebaikannya) maka bersilaturahmilah. (HR. Al-Bukhari)

3.  Terhubung dengan Allah SWT
Menyambung tali silaturahmi sama dengan menyambung hubungan dengan Allah SWT sebagaimana disebutkan hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
إَنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ فَقَالَتْ:هَذَا مَقَامُ الْعَائِذُ بِكَ مِنَ الْقَطِيْعَةِ قَالَ: َنعَمْ, أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكَ وَأَقْطَعَ مَنْ َقطَعَكَ ؟ قَالَتْ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ لَكَ
 “Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan makhluk, hingga apabila Dia selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan. Dia berfirman: “Benar, apakah engkau ridha jika Aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau?” Ia menjawab: iya. Dia berfirman: “Itulah untukmu”.

4.  Penyebab Masuk surga dan dijauhkan dari neraka
Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab,
تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ
“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983, Bab Fadhilah silaturrahim).

5.  Merupakan bentuk Ketaatan kepada Allah SWT
Menyambung tali silaturahim adalah salah satu hal yang diperintahkan oleh Allah Swt, maka dengan menjalankan perintahnya maka kita taat kepada Allah Swt. Menjalin silaturahim juga merupakan salah satu cara meningkatkan akhlak terpuji.
Sifat-sifat terpuji, Allah swt berfirman:
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَآأَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya (merasa diawasi), dan takut kepada hisab yang buruk (di akhirat nanti)” (QS. Ar-Ra’d :21)

Tafsir Ibnu Katsir

6.  Pahalanya seperti memerdekakan budak
Sebuah hadist meriwatkan bahwa dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi saw sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: “Apakah sudah engkau lakukan?” Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda:
أَمّا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ ِلأَجْرِكِ
“Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu.”

7.  Menambah keutamaan dalam bersedekah terhadap keluarga sendiri
Hadist dari Salman bin ‘Amir ra, dari Nabi saw beliau bersabda:

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
“Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: sedekah dan silaturahmi.” (HR Tirmidzi)
Hadits Zainab ats-Tsaqafiyah radhiyallahu ‘anha, istri Abdullah bin Mas’ud ra, ketika ia pergi dan bertanya kepada Nabi saw: Apakah boleh dia bersedekah kepada suaminya dan anak-anak yatim yang ada dalam asuhannya? Maka Nabi saw bersabda:
لَهَا أَجْرَانِ: أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ
Untuknya dua pahala, pahala kekeluargaan dan pahala sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)

8.  Panjang umur

Memiliki ikatan sosial yang baik bisa meningkatkan kesehatan jiwa, salah satunya menyehatkan otak dan juga membuat panjang umur.

9.  Tidak gampang sakit
Bergaul dan berteman berkaitan erat dengan sistem imun yang lebih kuat, terutama pada orang lanjut usia. Ini berarti, mereka tidak gampang sakit.

10. Kesehatan mental lebih baik
Berinteraksi dengan orang lain secara positif juga meningkatkan perasaan bahagia dan mengurangi rasa depresi. Oleh karenanya, salah satu cara terbaik meningkatkan mood adalah berkomunikasi dengan orang-orang terdekat.

11. Menurunkan risiko demensia
Ada banyak bukti-bukti yang menunjukkan, bersosialisasi bermanfaat positif bagi kesehatan otak. Orang yang banyak bergaul cenderung memiliki kemampuan kognitif dan daya ingat lebih baik. Dalam jangka panjang, risiko menderita demensia juga lebih rendah.

E.  Memutus tali silaturahim

1.  Dilaknat Allah
Allah berfirman dalam surah Muhammad: 22-23 yang artinya:
"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (22).  Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”(23). (QS. Muhammad :22-23)

2.  Diputuskan hubungannya dengan Allah
Orang yang memutuskan silaturahmi tidak hanya berdosa besar melainkan juga akan diberikan ganjaran sebagaimana yang hadist berikut :
اَلرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُوْلُ: مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللهُ
“Rahim bergantung di Arys seraya berkata: Barangsiapa yang menyambung hubunganku niscaya Allah Swt. menyambungnya, dan barangsiapa yang memutuskan aku niscaya Allah Swt. memutuskan hubungan dengannya” (HR Bukhari dan Muslim).

3.  Disegerakan Siksaannya
 مَا مِنْ ذَنْبٍ أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يُدَّخَرُ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ
“Tidak ada dosa yang Allah swt lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi” (HR Tirmidzi).

4.  Tidak diterima amalnya
Dan diriwayatkan bahwa orang yang memutuskan tali silaturahmi, amalannya tidak akan diterima, dari Abu Hurairah ra ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيْسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ
“Sesungguhnya amal ibadah manusia diperlihatkan setiap hari Kamis malam Jum’at, maka tidak diterima amal ibadah orang yang memutuskan hubungan silaturahmi (HR Ahmad).

5.  Tidak menerima rahmat Allah
Abdullah bin Abi Aufa ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
لاَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ
Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi” (HR Muslim).

6.  Tidak akan masuk surga
Dan orang yang memutuskan tali silaturahmi terancam tidak bisa masuk surga, dari Abu Muhammad Jubair bin Muth’im ra, dari Nabi saw beliau bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)” (HR Bukhari dan Muslim)

F. Menghadapi orang yang memutuskan silaturrahim

Mendahului untuk meminta menyambungkan silaturahmi, karena itu bagian dari amalan yang utama. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra aku berkata: Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang utama, maka beliau bersabda:
صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَأَعْرِضْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ
“Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu” (HR Ahmad).


Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Tuesday, April 24, 2018

Muhasabah

Assalamu'alaikum Wr. Wb.              

              Waktu yang telah berlalu takkan pernah terulang kembali. Amal yang telah kita lakukan tidak bisa kita rubah, ucapan yang telah diucapkan tidak akan pernah bisa ditarik kembali. Namun demikian, apa yang sudah terjadi telah banyak memberikan peringatan dan pelajaran yang bisa dijadikan pedoman dan I’tibar untuk menghadapi masa yang akan datang.
            Masa lalu yang telah dilalui menjadi pembelajaran yang akan memberikan tuntunan bagi kehidupan kita di masa yang akan datang. Tetapi hal tersebut akan terjadi apabila kita dapat mengevaluasi diri kita, mengevaluasi untuk dapat menentukan apa yang harus tetap dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Mengevaluasi, apakah amal-amal kita lebih banyak amal shaleh ataukah amal salah. Oleh karena itu evaluasi atau perhitungan terhadap prestasi amaliyah kita merupakan sesuatu yang sangat penting. Dalam bahasa agama, introspeksi diri/melakukan evaluasi diri, dengan cara memperhatikan keadaan diri, merenungi dan mengenal kelemahan diri disebut dengan Muhasabah.
            Terkait dengan perintah untuk melakukan muhasabah ini, sahabat Umar bin Khattab ra, mengatakan:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، أَنَّهُ قَالَ فِي خُطْبَتِهِ(حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْل أَنْ تُوزَنُوا ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ ، يَوْمَ تُعْرَضُونَ لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَة)

Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang, karena sesungguhnya kamu melakukan hisab terhadap dirimu sendiri hari ini, akan lebih memudahkan kamu saat menjalankan hisab hari esok.

Dalam surat al-Hasyr ayat 18-19 Allah berfirman, yang artinya:

يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ 

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَأَنْسٰهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۗ أُولٰئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (18)
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (19)

         Al-Imam Ibnu Katsir menafsirkan kata  dengan mengatakan bahwa maksud kalimat ini ialah hisablah diri kalian sebelum dihisab Allah, dan lihatlah apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian berupa amal shaleh pada hari kemudian dan pada saat bertemu dengan Allah.
         Hal yang harus kita evaluasi atau hisab tentunya hal-hal yang harus kita pertanggung jawabkan di hadirat Allah Swt. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani bahwa ada 4 hal yang akan Allah tanyakan kepada setiap hambanya pada hari kiamat, yakni umurnya untuk apa dia habiskan; ilmunya untuk apa dia gunakan; hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia gunakan; dan jasad atau fisiknya untuk apa dia pergunakan.

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : « إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) ».
            “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka (Muthaffifin 83: 14).” (HR Tarmidzi)

Hati ibarat sebuah cermin yang apabila cermin itu bersih maka akan tampak padanya sifat-sifat manusia. namun, ketika cermin itu tertutup oleh debu atau bahkan telah berkarat, sedangkan tidak ada yang menggosoknya, maka ia tidak akan bisa melihat perbuatannya itu baik atau buruk. Sehingga sulit baginya tuk melakukan perbaikan, karena ia tidak tahu dan sadar akan sikap buruk yang ia lakukan. (Imam Al Ghazali)
            Dengan demikian, di akhir penghujung tahun ini, alangkah baiknya kita bertafakur sejenak seraya mengenang perjalanan hidup yang telah kita lalui yang selanjutnya berupaya untuk memperbaiki segala kesalahan yang terdapat pada diri kita. Muhasabah dapat dilakukan kapan saja, muhasabah harian, mingguan, bulanan, tahunan atau bahkan periode tertentu sebagai evaluasi dari apa yang telah kita lakukan. 

           

Semoga bermanfaat dan mudah-mudahan Allah memberi keberkahan pada umur yang dipinjamkan kepada kita, memberi kesadaran dan kekuatan kepada diri kita agar menjadi manusia yang selalu bermuhasabah untuk lebih baik dari waktu ke waktu.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Amalan Bulan Sya'ban dan Nishfu Sya'ban

Assalamu'alaikum Wr. Wb. الحمدلله رب العالمين وبه نستعين علي امورالدنيا والدين أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَن...