Tuesday, April 24, 2018

Muhasabah

Assalamu'alaikum Wr. Wb.              

              Waktu yang telah berlalu takkan pernah terulang kembali. Amal yang telah kita lakukan tidak bisa kita rubah, ucapan yang telah diucapkan tidak akan pernah bisa ditarik kembali. Namun demikian, apa yang sudah terjadi telah banyak memberikan peringatan dan pelajaran yang bisa dijadikan pedoman dan I’tibar untuk menghadapi masa yang akan datang.
            Masa lalu yang telah dilalui menjadi pembelajaran yang akan memberikan tuntunan bagi kehidupan kita di masa yang akan datang. Tetapi hal tersebut akan terjadi apabila kita dapat mengevaluasi diri kita, mengevaluasi untuk dapat menentukan apa yang harus tetap dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Mengevaluasi, apakah amal-amal kita lebih banyak amal shaleh ataukah amal salah. Oleh karena itu evaluasi atau perhitungan terhadap prestasi amaliyah kita merupakan sesuatu yang sangat penting. Dalam bahasa agama, introspeksi diri/melakukan evaluasi diri, dengan cara memperhatikan keadaan diri, merenungi dan mengenal kelemahan diri disebut dengan Muhasabah.
            Terkait dengan perintah untuk melakukan muhasabah ini, sahabat Umar bin Khattab ra, mengatakan:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، أَنَّهُ قَالَ فِي خُطْبَتِهِ(حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْل أَنْ تُوزَنُوا ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ ، يَوْمَ تُعْرَضُونَ لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَة)

Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang, karena sesungguhnya kamu melakukan hisab terhadap dirimu sendiri hari ini, akan lebih memudahkan kamu saat menjalankan hisab hari esok.

Dalam surat al-Hasyr ayat 18-19 Allah berfirman, yang artinya:

يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ 

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَأَنْسٰهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۗ أُولٰئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (18)
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (19)

         Al-Imam Ibnu Katsir menafsirkan kata  dengan mengatakan bahwa maksud kalimat ini ialah hisablah diri kalian sebelum dihisab Allah, dan lihatlah apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian berupa amal shaleh pada hari kemudian dan pada saat bertemu dengan Allah.
         Hal yang harus kita evaluasi atau hisab tentunya hal-hal yang harus kita pertanggung jawabkan di hadirat Allah Swt. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani bahwa ada 4 hal yang akan Allah tanyakan kepada setiap hambanya pada hari kiamat, yakni umurnya untuk apa dia habiskan; ilmunya untuk apa dia gunakan; hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia gunakan; dan jasad atau fisiknya untuk apa dia pergunakan.

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : « إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) ».
            “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka (Muthaffifin 83: 14).” (HR Tarmidzi)

Hati ibarat sebuah cermin yang apabila cermin itu bersih maka akan tampak padanya sifat-sifat manusia. namun, ketika cermin itu tertutup oleh debu atau bahkan telah berkarat, sedangkan tidak ada yang menggosoknya, maka ia tidak akan bisa melihat perbuatannya itu baik atau buruk. Sehingga sulit baginya tuk melakukan perbaikan, karena ia tidak tahu dan sadar akan sikap buruk yang ia lakukan. (Imam Al Ghazali)
            Dengan demikian, di akhir penghujung tahun ini, alangkah baiknya kita bertafakur sejenak seraya mengenang perjalanan hidup yang telah kita lalui yang selanjutnya berupaya untuk memperbaiki segala kesalahan yang terdapat pada diri kita. Muhasabah dapat dilakukan kapan saja, muhasabah harian, mingguan, bulanan, tahunan atau bahkan periode tertentu sebagai evaluasi dari apa yang telah kita lakukan. 

           

Semoga bermanfaat dan mudah-mudahan Allah memberi keberkahan pada umur yang dipinjamkan kepada kita, memberi kesadaran dan kekuatan kepada diri kita agar menjadi manusia yang selalu bermuhasabah untuk lebih baik dari waktu ke waktu.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

No comments:

Post a Comment

Amalan Bulan Sya'ban dan Nishfu Sya'ban

Assalamu'alaikum Wr. Wb. الحمدلله رب العالمين وبه نستعين علي امورالدنيا والدين أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَن...