Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Waktu
yang telah berlalu takkan pernah terulang kembali. Amal yang telah kita lakukan
tidak bisa kita rubah, ucapan yang telah diucapkan tidak akan pernah bisa ditarik
kembali. Namun demikian, apa yang sudah terjadi telah banyak memberikan
peringatan dan pelajaran yang bisa dijadikan pedoman dan I’tibar untuk
menghadapi masa yang akan datang.
Masa
lalu yang telah dilalui menjadi pembelajaran yang akan memberikan tuntunan bagi
kehidupan kita di masa yang akan datang. Tetapi hal tersebut akan terjadi apabila
kita dapat mengevaluasi diri kita, mengevaluasi untuk dapat menentukan apa yang
harus tetap dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Mengevaluasi, apakah
amal-amal kita lebih banyak amal shaleh ataukah amal salah. Oleh karena itu
evaluasi atau perhitungan terhadap prestasi amaliyah kita merupakan sesuatu
yang sangat penting. Dalam bahasa agama, introspeksi diri/melakukan evaluasi
diri, dengan cara memperhatikan keadaan diri, merenungi dan mengenal kelemahan
diri disebut dengan Muhasabah.
Terkait
dengan perintah untuk melakukan muhasabah ini, sahabat Umar bin
Khattab ra, mengatakan:
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، أَنَّهُ قَالَ فِي
خُطْبَتِهِ(حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ
قَبْل أَنْ تُوزَنُوا ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ ، يَوْمَ تُعْرَضُونَ
لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَة)
Hisablah dirimu sebelum kamu
dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang, karena sesungguhnya kamu
melakukan hisab terhadap dirimu sendiri hari ini, akan lebih memudahkan kamu
saat menjalankan hisab hari esok.
Dalam surat al-Hasyr ayat 18-19
Allah berfirman, yang artinya:
يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَأَنْسٰهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۗ أُولٰئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (18)
Dan
janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah
menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang
yang fasik. (19)
Al-Imam
Ibnu Katsir
menafsirkan kata
dengan mengatakan bahwa
maksud kalimat ini ialah hisablah diri kalian sebelum dihisab Allah, dan
lihatlah apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian berupa amal shaleh pada
hari kemudian dan pada saat bertemu dengan Allah.
Hal
yang harus kita evaluasi atau hisab tentunya hal-hal yang harus kita
pertanggung jawabkan di hadirat Allah Swt. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani
bahwa ada 4 hal yang akan Allah tanyakan kepada setiap hambanya pada hari
kiamat, yakni umurnya untuk apa dia habiskan; ilmunya untuk apa dia gunakan;
hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia gunakan; dan jasad atau
fisiknya untuk apa dia pergunakan.
قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه
وسلم : « إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى
قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ
زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ ( كَلاَّ بَلْ
رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) ».
“Seorang mukmin jika berbuat
satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia
bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah
dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat
yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya
apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka (Muthaffifin
83: 14).” (HR Tarmidzi)
Hati ibarat sebuah cermin yang
apabila cermin itu bersih maka akan tampak padanya sifat-sifat manusia. namun,
ketika cermin itu tertutup oleh debu atau bahkan telah berkarat, sedangkan
tidak ada yang menggosoknya, maka ia tidak akan bisa melihat perbuatannya itu
baik atau buruk. Sehingga sulit baginya tuk melakukan perbaikan, karena ia
tidak tahu dan sadar akan sikap buruk yang ia lakukan. (Imam
Al Ghazali)
Dengan
demikian, di akhir penghujung tahun ini, alangkah baiknya kita bertafakur
sejenak seraya mengenang perjalanan hidup yang telah kita lalui yang
selanjutnya berupaya untuk memperbaiki segala kesalahan yang terdapat pada diri
kita. Muhasabah dapat dilakukan kapan saja, muhasabah harian, mingguan,
bulanan, tahunan atau bahkan periode tertentu sebagai evaluasi dari apa yang
telah kita lakukan.
Semoga bermanfaat dan mudah-mudahan Allah memberi
keberkahan pada umur yang dipinjamkan kepada kita, memberi kesadaran dan
kekuatan kepada diri kita agar menjadi manusia yang selalu bermuhasabah untuk
lebih baik dari waktu ke waktu.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
No comments:
Post a Comment